"Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran karena mereka akan dipuaskan" Matius 5:6
Sabtu, 19 Maret 2016
Persembahan yang berkenan
Senin, 14 Maret 2016
Konsisten terhadap Komitmen
Siapa pernah nonton film "The Book of Eli"? Didalam film ini, menggambarkan keadaan dunia setelah pengangkatan, setelah Tuhan Yesus datang kedua kalinya. Keadaan dunia pada saat itu kayak gurun pasir, orang-orang saling mencuri, menyakiti, bahkan membunuh demi mempertahankan hidup. Pokoknya kehidupan kacau banget deh, istilah kerennya 'parah beut'.
Nah si Eli ini memiliki tujuan untuk pergi ke Barat melindungi sebuah buku dan mengantarkannya sampai tujuan akhir. Di lain pihak, ada oknum yang berupaya untuk merebut buku itu soalnya gosip-gosip yang beredar, buku itu bisa dipakai untuk menguasai dunia.
Tapi, sebenarnya yang mau dibahas bukan soal film ini. Yang mau kita bahas adalah bagaimana bisa menjadi Eli yang konsisten menjalani tujuannya, walaupun diterpa badai.
"Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan." Roma 12:11
Tuhan mau kita terus 'menyala-nyala' dalam melayani Dia. Kita mesti harus terus bersemangat dalam melayani Tuhan.
Nah, sayangnya, kebanyakan anak Tuhan, termasuk saya, bisanya ngomong doang. Buat komitmen untuk terus melayani Tuhan itu gampang banget, tinggal say it! Yang susah itu adalah konsisten terhadap komitmen kita itu.
Jadi, bagaimana supaya bisa terus 'menyala-nyala'?
Manusia itu dikatakan hidup karena 3 unsur: (1 Tesalonika 5:23)
1. Tubuh
Tubuh adalah unsur lahiriah manusia, unsur daging yang dapat dilihat, didengar, disentuh, dan sebagainya.
2. Jiwa
Jiwa adalah unsur batiniah manusia yang tidak dapat dilihat. Jiwa manusia meliputi beberapa unsur, pikiran, emosi (perasaaan) dan kehendak. Dengan pikirannya, manusia dapat berpikir, Dengan perasaannya manusia dapat mengasihi dan dengan kehendaknya, manusia dapat memilih.
3. Roh
Roh adalah prinsip kehidupan manusia. Roh adalah nafas yang dihembuskan oleh Allah ke dalam manusia dan kembali kepada Allah, kesatuan spiritual dalam manusia. Roh adalah sifat alami manusia yang 'immaterial' yang memungkinkan manusia berkomunikasi dengan Allah, yang juga adalah Roh.
Ketiga unsur ini dikenal dengan sebutan "TRIKHOTOMI".
Ketiga unsur ini perlu diberikan asupan agar dapat terus bertahan. Kalau tubuh sudah jelas harus diisi dengan makanan agar bisa terus bertahan, gak jadi kerempeng n kekurangan gizi. Sementara kalau jiwa, biar gak stress dikasih hiburan. Dan untuk roh, kita perlu mengisinya dengan Firman Tuhan.
Nah, yang penting perlu kita ketahui adalah tubuh dan jiwa itu bisa kenyang, tapi Roh gak bisa kenyang. Kalau suatu waktu kita merasa puas dengan Firman-Firman yang kita terima berarti tanpa sadar kita mengandalkan jiwa kita untuk menangkap Firman Tuhan. Akibatnya kita akan merasa bosan dengan Firman-Firman Tuhan sehingga kita jatuh ke dalam dosa.
Terkadang itulah yang salah dalam pelayanan kita, kita berusaha untuk memuaskan jiwa kita dengan pelayanan. Namun bukan berarti memuaskan jiwa itu gak penting loh? Kadang-kadang itu pula yang dicari oleh jemaat. Namanya juga menarik jiwa kan? Bukan menarik roh.
Lalu, apa yang menyebabkan api Roh kita padam: jawabannya singkat jelas dan padat, yaitu: dosa. (baca: Yesaya 59: 1-2)
Untuk kita para pelayan Tuhan, ada 2 hal yang seringkali memadamkan api Roh kita:
1. Kesombongan
Yaah.. Lucifer juga jatuh karena hal ini kan? Keinginannya untuk menyamai Tuhan. Untuk itu kita pelayan-pelayan Tuhan perlu berjaga-jaga terhadap hal ini. (baca Yesaya 14:12-15)
Hati-hati dengan hatimu!
2. Kebencian / Kepahitan
Bagaimana kita bisa sepenuh hati (berapi-api) dalam pelayanan kita, kalau kita sedang kepahitan/membenci orang lain. Tuhan juga bilang dalam Firman-Nya di Matius 5:23-24: "Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada di dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahan itu."
Buat komitmen itu gampang, tapi untuk konsisten terhadap komitmen kita? Sanggup? Harus. Karna kita anak-anak Allah.
Kalau hari-hari ini kita sedang dalam keadaan sombong, kepahitan atau kebencian, saran saya lebih baik mundur/cuti dulu. Mundur di sini bukan berarti keluar dari pelayanan loh? Mundur maksudnya minta ampun sama Tuhan dan bereskan semua dosa-dosamu.
Salam Revival!!! Tuhan Yesus memberkati
Jumat, 11 Maret 2016
Respon ketika menanti janji Tuhan
“Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya.” Maka firman-Nya kepadanya: “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.” (Kej. 15:5)
Pekerjaan yang paling tidak mengenakkan adalah menunggu. Ini yang terjadi dalam rumah tangga Abraham dan Sara. Tuhan sudah berjanji akan menjadikan Abraham sebagai bangsa yang besar, bahkan secara jelas janji tentang keturunan yang tak terhitung banyaknya (Kej. 15:5). Dalam perjalanan penantian yang sudah sepuluh tahun tapi tidak kunjung datang janji itu, membuat Sara mengambil jalan pintas, yaitu dengan memberikan Hagar sebagai isteri Abraham dengan harapan Sara bisa menggendong momongan. Ketika Sara bertindak di luar rencana Tuhan, maka persoalan bertambah rumit (Kej. 16:3-5).
Pada waktu kita memperoleh janji Tuhan, atau ketika kita berdoa dan mempercayai bahwa Tuhan akan membuat mujizat, maka ada jarak dalam menanti penggenapan janji Tuhan. Berapa lama? Seminggu? Sebulan? Atau setahun? Yang penting bagi kita bukan kapan, tetapi bagaimana respon kita saat kita menanti janji Tuhan tersebut.
Banyak orang Kristen yang tidak sabar dan akhirnya gagal dalam separuh perjalanan imannya karena memaksakan kehendaknya untuk cepat-cepat mengalami mujizat. Satu hal yang harus kita ingat bahwa Allah tidak mungkin berdusta. Dia tak pernah ingkar janji. Dia memiliki tujuan yang pasti dalam segala sesuatu yang Ia kerjakan, termasuk hal-hal yang kita anggap Allah menunda atau lambat pertolongan-Nya.
Yusuf, misalnya, ia sudah dua kali diberi mimpi akan menjadi seorang penguasa (Kej. 37:8), tapi kenyataanya ia malah dibenci, dianiaya, dan dijual sebagai budak oleh saudara-saudaranya. Justru melalui kesengsaraan yang dialami Yusuf itu malah menghantarkan dia menjadi seorang penguasa Mesir.
Bagaimana respon kita dalam menanti janji Tuhan? Percayai bahwa segala sesuatu ada waktunya termasuk mananti janji Tuhan (Peng. 3:1&11). Waktu kita dengan waktu Tuhan beda, tetapi yang pasti saat Allah berjanji, apa yang Ia janjikan itu sudah ada. Tuhan sudah menetapkan waktu untuk Abraham, dan Abraham harus menunggu. Saat Daud sudah dilantik menjadi raja, tidak otomatis ia memegang tampuk pemerintahan, sebaliknya ia harus menunggu waktu Tuhan, bahkan ia dikejar-kejar Saul yang hendak membunuhnya. Tetapi Daud memiliki respon: ia percaya waktu Tuhan, itu sebabnya ia sabar menunggu janji Tuhan.
Saat Ribka, isteri Ishak, mandul, bagaimana respon Ishak dalam menanti janji Tuhan? Ia tidak membuat mujizat sendiri, sebaliknya ia berdoa dan terus berdoa (Kej. 25:20-26). Ia berdoa tiada henti, dua puluh tahun ia berdoa. Ini juga yang harus menjadi respon kita saat pergumulan kita belum dijawab oleh Tuhan. Jadi tetaplah sabar dan berdoa. Jangan berputus asa, jangan berhenti berdoa, tetap nantikan janji Tuhan.
Mengapa Allah sepertinya mengulur-ulur waktu dan membuatnya begitu sulit. Mengapa Ia tidak membuat segala sesuatu terjadi lebih cepat? Mengapa kita harus menunggu? Pada waktu kita menunggu, Allah sedang menguji iman kita supaya kita memiliki iman yang murni (1 Pet. 1:6-7). Sama seperti Yusuf ketika diperhadapkan kesengsaraan sebagai budak, maka imannya nampak sebagai iman yang murni, sebab ia takut akan Tuhan dan menolak ajakan tante potifar untuk berzinah.
Jangan tergesa-gesa untuk memperoleh jawaban, ketahuilah bahwa Allah hendak membentuk kemurnian iman kita, dan percayalah bahwa untuk segala sesuatu ada waktunya, sabarlah dan tetap berdoa, Tuhan pasti menyatakan mujizat-Nya dalam hidup kita.
Salam Revival!!! Tuhan memberkati.
Kamis, 10 Maret 2016
High Quality Jomblo
Alone VS High Quality Jomblo
Alone dalam bahasa Indonesia dapat penulis artikan sebagai keadaan seseorang yang terisolasi, tertutup, kesepian, tidak mau bergaul, potensinya tidak maksimal, tidak utuh, tidak komplit, seorang diri, Sendirian. Sedangkan high quality jomblo dapat saya artikan; utuh, tunggal, bisa bergaul, berprestasi, komplit, mempunyai tujuan hidup, tidak tergantung pada orang lain, dekat dengan Tuhan, potensi hidupnya maksimal.
Menjadi anak muda yang jomblo dan berkualitas, jaman sekarang ini jarang ditemukan. Hal ini disebabkan karena banyak yang menyia-nyiakan waktu yang sudah diberikan. Setiap orang mempunyai waktu yang sama, yaitu 24 jam/sehari. Dalam waktu yang sama ada yang menggunakan waktu dengan memaksimalkan talenta dari yang dia miliki, ada juga yang bermalas-malasan.
Sesungguhnya pacaran tidak ada gunanya bila kita belum menjadi jomblo yang berkualitas, saya bukan mengharapkan seseorang untuk menjadi sempurna terlebih dahulu, baru boleh pacaran, tetapi dalam kehidupan pada saat dia masih jomblo, seharusnya dia menggunakan waktu itu menjadi berkualitas (High Quality Jomblo).
Apa kata alkitab?
Dalam kejadian 2 : 18 dikatakan bahwa “Tidak baik kalau manusia itu Seorang Diri saja.” Sedangkan dalam alkitab versi NIV, dikatakan bahwa “it is not good for the man to be alone.” Manusia itu yang dimaksudkan dalam alkitab adalah Adam. Jadi Adam dalam kacamata Tuhan, tentang menjalin hubungan dengan sesamanya masih dapat dikatakan alone. Yang berarti Adam tidak baik sendirian, karena pada saat itu, adam hanya seorang diri. Tetapi dalam kualitasnya sebagai manusia yang seorang diri pada saat itu, adam termasuk High Quality Jomblo.
Adam dapat dikatakan High Quality Jomblo karena pada saat itu, di dalam kesendiriannya, dia dapat berkreasi dari apa yang dia mampu kerjakan. Jadi pada saat masih single, ia memaksimalkan potensi yang dimilikinya, antara lain yang dia kerjakan adalah memberi nama seluruh binatang, mempunyai hubungan yang dekat dengan Tuhan, tidak mengeluh bekerja sendirian, mengusahakan dan memelihara taman sendirian. Intinya, adam produktif dalam kesendiriannya, dia tidak menyia-nyiakan waktu.
Apakah single masalah?
Anak muda banyak yang ingin sekali cepat-cepat pacaran, tanpa dibekali pengetahuan terlebih dahulu, padahal seharusnya dia belajar terlebih dahulu, baru dapat menyatakan cintanya kepada lawan jenis. Bagi mereka yang ingin cepat pacaran, salah satu alasannya adalah karena mereka tidak ingin menjadi single. Lalu, apakah menjadi single itu suatu masalah?
Saya mencoba menyebarkan beberapa angket kecil, yang disebarkan melalui beberapa forum dan Email. Angket itu memberikan satu pertanyaan, apakah menjadi single itu suatu masalah? Jawabannya adalah sebagai berikut :
NB : Nama diinisialkan dan kata-kata di copy paste.
· CL, banyak yg bsa kita lakukan saat kita single yg tdk bsa dilakukan saat kita punya
· SF, tidak tuh.krn being single kita bisa fokus lbh ama Tuhan..konsentrasi ga pecah...
· LE, justru ddengan single adalah waktu kita mempersiapkan diri sematangnya menuju pacaran
· WMI, TIDAK tuhh, sp tau alesan dia nge jomblo adalah lbh fokus lg ma Tuhan dan menghindari hal2 yg tidak diinginkan,, it's ok la,,
· DS, single adalah waktu buat do what u wanna do,fokus buat Tuhan, kerjaan(atw sekolah),dan kluarga.. ^^
· DK, Gak masalah laa kalo lum punya pasangan, yang jadi masalah kalo kita "single" dalam arti kita gak bareng ama GOD.
· WS, karena itu adalah salah 1 pilihn. hrsny kl dah milih, pasti itu yg terbaik yg sdh qt pikirkan donkkk, so itu bkn mslh donk namanya.. & ketika qt memutuskan u/ blm memulai suatu hub khusus dg lwn jenis krn 1 ato lain hal, knp hrs dipaksa cuma demi status tohhh
· PS, Tidak, soalnya pas single itu banyak proses yang Tuhan kasih supaya kita siap untuk berpacaran..hehe
· KR, Tidak, hidup single yang maksimal untuk Tuhan serta kudus, itu sama nilainya dengan pernikahan yang Illahi
Dari jawaban diatas, saya pun setuju, karena memang rata-rata mereka menjawab, bahwa menjadi single itu bukanlah suatu masalah. Justru pada saat kita masih menjadi single, disinilah waktunya kita berkarya dan menggunakan semua potensi yang kita miliki dengan maksimal. Menjadi single bukanlah masalah, tetapi suatu keharusan!
Selibat / Melajang
Selibat / melajang adalah sebuah pilihan hidup yang bersumber dari suatu pandangan atau pemikiran tertentu yang memutuskan si pribadi tersebut untuk memilih hidup tanpa menikah. Seseorang yang memilih hidup melajang, karena memang itu adalah pilihan dari pribadinya masing-masing, dan tanpa ada unsur paksaan dari pihak lain.
Hidup melajang bukanlah suatu hal yang harus dihindari, tetapi hidup selibat adalah suatu pilihan hidup. Jadi seseorang dalam mencapai tujuan hidupnya tidak harus memiliki pasangan hidup (lawan jenis) atau menikah. Penulis mengambil ilustrasi seorang pemain badminton sebagai contoh. Pemain badminton dalam mencapai tujuannya, yaitu kemenangan, dia dapat meraihnya dengan usaha sendiri, yang disebut bermain single atau dapat juga bermain berdua, yang disebutganda. Jadi dalam mencapai tujuannya, pemain badminton dapat dilakukan single, tidak perlu memiliki partner. Dan itu adalah suatu pilihan bagi pemain tersebut. begitu pula dengan hidup ini, seseorang dapat mencapai tujuan hidupnya dengan menikah, atau dapat berjuang sendirian. Sekali lagi, itu adalah suatu pilihan hidup.
Contoh dalam Alkitab
Rasul Paulus adalah contoh pertama yang dapat kita teladani, di dalam kehidupannya. Rasul Paulus walaupun sendirian (tidak menikah) tetapi dapat mengakhiri pertandingan dengan baik (2 Tim 4:7). Bahkan Rasul Paulus yang menjadi pusat ilmu teologi pada zaman ini dan juga menulis 13 kitab dalam perjanjian baru. Berarti dalam mencapai tujuan hidupnya, Rasul Paulus tidak memerlukan pasangan hidup, dia dapat mengerjakan sendirian dengan maksimal.
Contoh yang kedua adalah Yesus Kristus. Memang Yesus adalah Allah, tetapi ingat juga, bahwa Yesus adalah juga seorang manusia. Yesus sebagai manusia mempunyai rasa takut dan sakit. Pada saat Yesus disalib, sakitnya pun nyata. Bahkan rasa takutnya pun sangat nyata, dalam kitab matius 26:39 “Biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku”. Yang berarti bahwa Yesus pada saat itu, mencapai ketakutan yang memuncak, karena memang sewajarnya apabila seorang manusia mengetahui bahwa ia akan disalib, pasti mempunyai rasa takut yang sama dengan Yesus pada saat itu.
Seseorang yang memilih hidup melajang, sudah seharusnya untuk menjadi High Quality jomblo seperti contoh Rasul Paulus dan Yesus Kristus di atas. Hidup melajang bukanlah suatu masalah masalah besar, hidup selibat adalah karunia. Tidak semua orang bisa mendapatkan karunia hidup melajang.
5 Prinsip Sebelum Berpacaran
Prinsip 1 : Indah pada waktunya
Seringkali kita melakukan kesalahan dengan mencabut sesuatu yang baik bukan pada waktu yang tepat untuk menikmatinya, tetapi hanya sekedar karena kita menginginkannya. Anak muda jaman sekarang lebih memilih menghabiskan masa sekolahnya dengan berpacaran, padahal seharusnya masa sekolah, bukanlah masa berpacaran, tetapi masa dimana kita bisa mengembangkan dan memaksimalkan seluruh potensi yang kita miliki. Tetapi karena trend masa ini, banyak anak muda yang lebih memilih untuk berpacaran di usia yang dini, padahal belum tentu ia mengerti tujuan pacaran itu sendiri.
Kebudayaan zaman sekarang mengajarkan, bahwa jika sesuatu itu baik, kita harus berusaha segera untuk menikmatinya. Itulah mengapa kita menggunakan microwave atau mengirim paket ekspres. Tujuan kita melakukan itu adalah supaya segala sesuatunya dapat kita nikmati dengan cepat, tanpa harus menunggu lebih lama lagi. Mungkin kata-kata itu sering kita dengar “kalo bisa sekarang, kenapa harus kita nikmati nanti?”.
Ada ilustrasi yang sangat memberkati banyak orang, yaitu sebuah kisah tentang Marshmallow. Konon ada seorang ilmuwan dapat melihat masa depan dengan memperhatikan bagaimana anak berusia empat tahunan berinteraksi dengan marshmallow. Para peneliti mengundang anak-anak, satu demi satu, masuk ke dalam sebuah ruangan kosong dan memulai siksaan halus. “Kamu bisa memiliki marshmallow ini sekarang,” katanya. “tetapi jika kamu menunggu sementara saya mengurus suatu keperluan, kamu bisa mendapatkan dua marshmallow ketika saya kembali.” Dan kemudian ia pergi.
Beberapa anak langsung mengambil marshmallow itu ketika si peneliti keluar. Yang lain menunggu beberapa menit sebelum akhirnya menyerah. Tetapi yang lain berketetapan hati untuk menunggu. Mereka menutupi matanya, membaringkan kepala mereka, menyanyi, bermain atau bahkan jatuh tertidur. Dan akhirnya mereka mendapatkan upanya, yaitu dua marshmallow.
Ketika anak tersebut berusia SMP, sesuatu yang luar biasa terjadi. Sebuah survey terhadap orang tua dan guru-guru yang ketika di usia empat tahun memiliki keuletan untuk menunggu marshmallow kedua pada umumnya bertumbuh menjadi remaja-remaja yang lebih mudah menyesuaikan diri, lebih popular, lebih berani, lebih percaya diri dan mandiri.
Sedangkan anak-anak yang cepat menyerah, menjadi anak yang kesepian, mudah frustasi, dan keras kepala. Mereka roboh di bawah tekanan dan tidak menyukai tantangan. Usaha kita untuk mendahului waktu Allah dapat merusak keindahan rencanaNya bagi kehidupan kita. (Pengkhotbah 3:1-8).
Segala sesuatu ada waktunya. Ada masa kita harus menimba ilmu, ada waktu kita harus memaksimalkan potensi kita, ada waktu dimana kita harus makan, ada waktu dimana kita harus liburan, ada waktu dimana kita harus menikmati dan juga ada waktu dimana kita akan berpacaran. Gunakanlah waktu sebaik mungkin pada waktu yang tepat. Kita perlu ingat bahwa sesuatu yang baik pada waktu yang tidak tepat adalah sesuatu yang tidak baik.
Prinsip 2 : Tujuan pacaran
Dari angket yang sama, saya juga bertanya tentang tujuan pacaran. Pertanyaannya adalalah seperti ini “Untuk apa sih kita pacaran?”. Dari angket tersebut, saya mendapatkan jawaban yang unik dan menarik. Antara lain sebagai berikut :
· Sharing tentang kehidupan
· Supaya mendapat perhatian
· Supaya ada yang kasi support dalam hidup kita
· Untuk cari pengalaman
· Ada yang nganterin kemana-mana
· Ada yang bayarin
· Mengasihi dia
Bila asalan berpacaran hanya yang disebutkan dari angket diatas, sahabat dan keluarga pun juga dapat memberikan. Bahkan mungkin lebih baik dari pacar kita. Dan apabila memang jawabannya hanya sampai disitu saja, maka penulis sangat yakin bahwa orang tersebut belum pantas untuk menjalin hubungan romantis dengan lawan jenis. Karena tujuan pacaran tidak sedangkal itu.
Makna dari pacaran jauh lebih dalam dibanding dengan alasan diatas, karena pacaran adalah tahap dimana kita seharusnya lebih mengenal terhadap pasangan hidup kita dan semuanya itu untuk mempersiapkan diri ke bangku pelaminan, yang disebut dengan pernikahan. Apabila kita belum siap menghadapi pernikahan, seharusnya kita jangan egois memberikan cinta kita terhadap kebutuhan emosional dan kebutuhan fisik orang yang kita cinta.
Apabila dua orang yang sedang jatuh cinta tidak bisa membuat suatu komitmen sakral dalam pernikahan, maka mereka tidak perlu mengejar percintaan, alangkah lebih baik bila mereka memaksimalkan potensi mereka selama masih jomblo. Karena apabila kita belum siap membuat komitmen, kita akan terjebak dalam kondisi “Dating Limbo”, artinya adalah kondisi stagnan, hubungan itu tidak menuju pernikahan tetapi juga tidak putus.
Selamanya orang yang menikmati kondisi ini, hanya akan merasakan kondisi Teman Tapi Mesra (TTM). Bila kita menikmati kondisi tersebut, akhirnya akan membuat sakit hati salah seorang pasangan. Kita harus punya target, kapan kita bisa berkomitmen untuk berpacaran dan kapan kita dapat berkomitmen untuk menikah. Jadi intinya adalah, bila kita belum siap untuk menikah, adalah baik bila kita tidak usah memutuskan untuk menjalin hubungan romantis yang disebut pacaran.
Prinsip 3 : Menjadi orang yang tepat
Sebelum kita mencari orang yang tepat, seharusnya kita menjadi orang yang tepat terlebih dahulu. Pola pikir kita sebagai anak muda, seringkali berusaha untuk mencari seseorang yang tepat bagi dirinya, mencari orang yang cantik, cakep, mempunyai badan yang menarik, pintar, seiman, dll. Tetapi sebenarnya apakah kita sudah menjadi orang yang tepat terlebih dahulu? Apakah kita sudah pantas untuk berpacaran? Inilah pertanyaan yang harus kita jawab terlebih dahulu.
Jangan pernah terlalu sibuk memikirkan siapa yang kita inginkan, sehingga kita lupa menjadi diri kita sendiri. Kita lupa bahwa ternyata ada banyak pekerjaan yang harus kita lakukan, kita lupa untuk menjadi Adam terlebih dahulu, yang memaksimalkan seluruh potensinya terlebih dahulu. Sebelum Adam memilih Hawa sebagai pasangan hidup, adam berusaha menjadi orang yang tepat terlebih dahulu. Inilah yang harus kita teladani.
Banyak yang dapat kita pelajari untuk menjadi orang yang tepat. Saya mencoba membuat hal apa saja yang dapat dilakukan untuk menjadi orang tepat.
Antara lain adalah sebagai berikut :
√ Berlatih mengatur keuangan
√ Berlatih mengatur waktu
√ Berolahraga untuk mendapatkan kesehatan
√ Mengontrol nafsu birahi
√ Melakukan hal-hal praktis di rumah
Pria : mencari tahu tentang elektronik, otomotif, bangunan, listrik, dll
Wanita : belajar memasak, menjahit, mengurus adik, dll.
√ Pelayanan di Gereja
√ Berorganisasi di gereja, sekolah atau masyarakat
√ Banyak baca buku
√ Menjalin hubungan (Quality Time) dengan keluarga kecil dan keluarga besar
√ Mengikuti seminar LSD
√ Mengetahui perbedaan antara pria dan wanita
√ Menggali informasi dalam dunia maya
√ Mengikuti kegiatan yang sesuai dengan potensi kita
√ Bergaul kepada orang yang dapat mengembangkan potensi kita
Inilah hal yang dapat kita lakukan sebelum mencari orang yang tepat. Jangan sampai kita meninggal dan melihat kita terkubur bersama potensi kita, karena kita tidak pernah mengembangkan dan memaksimalkannya. Myles Munroe pernah berkata, “Matilah dalam keadaan kosong, matilah dengan dengan puas."
Prinsip 4 : Tanggung jawab pria dan wanita
Sebagai seorang pria dan wanita kita harus mengerti tanggung jawab pria dan wanita sebelum menjalin hubungan romantis. Ada hal yang harus kita perhatikan sebelum kita berpacaran, karena apabila tidak, hal ini akan menjerumuskan kita ke dalam lubang dosa.
Tanggung jawab wanita
Kaum hawa harus mengingat akan hal yang satu ini, sebenarnya kaum adam paling bergumul dengan matanya. Memang kaum Adam juga harus dingatkan, tetapi ini adalah tanggung jawab wanita. Karena seringkali yang ada, para pria jatuh juga karena wanitanya memang tidak pernah berpakaian sepantasnya, dan dapat menimbulkan nafsu birahi. Pria harus mengendalikan diri, wanita harus menolong dengan cara berpakaian yang sewajarnya.
Kaum adam paling mudah untuk berpikiran cabul, dalam tenggang waktu yang sangat singkat, yaitu 4 menit. Sepasang ahli psikologi yang beranama Allan & Barbara pease mengatakan bahwa Cara memuaskan seorang wanita adalah dengan: Belaian, pujian, kemanjaan, senangkan hatinya, aroma, pijatan, memperbaiki sesuatu, empati, nyanyian, sanjungan, dukungan, makanan, ketengan, giuran, humor, ketentraman, rangsangan, bujukan, dekapan, dll. Dan hanya satu cara memuaskan seorang pria adalah dengan : Dekati dirinya tanpa busana.
Yang menggairahkan wanita dan pria memang berbeda. Yang menggairahkan wanita adalah romansa, komitmen, komunikasi, keintiman, sentuhan tanpa seks, sedangkan yang menggairahkan pria adalah pornografi, kebugilan wanita, variasi seksual, pakaian dalam wanita, kebersediaan wanita. Jadi pada dasarnya, wanita dan pria memang diciptakan dengan keunikan masing-masing dan mempunyai kelebihan masing-masing.
Tanggung jawab pria
Bila kaum Hawa sudah mengetahui tanggung jawabnya, maka kaum Adam pun sudah ada tanggung jawabnya sendiri. Bagi para kaum Adam, yang patut diperhatikan adalah, ingatlah bahwa perlakukanlah seorang wanita sebagai perempuanmu. Jangan dijadikan obyek seksual ataupun jangan memainkan perasaan wanita, dengan memberikan harapan yang palsu.
Pria suka sekali memainkan perasaan wanita, lewat karisma yang dimilikinya. Apabila sudah puas dengan satu wanita, dengan mudahnya meninggalkan wanita tersebut untuk mendekati wanita lain. Dan seringkali yang ada adalah, kaum hawa selalu menjadi obyek penderita korban hawa nafsu lelaki.
Yang harus diingat bagi kaum adam adalah bila tidak mempunyai komitmen yang kuat untuk berpacaran yang menuju pernikahan, kita tidak layak memberikan perhatian romantis kepada lawan jenis. Apabila memang tidak menyukai, katakan dengan tegas, jangan memberikan harapan semu.
Prinsip 5 : Pilihan di tangan kita
Seringkali kita berpikir bahwa jodoh ada di tangan Tuhan. Untuk yang satu ini, saya tidak setuju. Jodoh bukan di tangan Tuhan, tetapi jodoh ada di tangan kita sendiri, kitalah yang menentukan pasangan hidup kita. Segala kekurangan dan kelebihan tentang pasangan hidup kita, semua adalah pilihan kita.
Dalam Kejadian 2 : 22 dikatakan bahwa “lalu dibawaNya kepada manusia itu”. Kata membawa dalam bahasa Ibrani asli diterjemahkan dengan kata “memamerkan”. Jadi pada saat itu, Tuhan hanya membawa manusia yang baru diciptakannya itu, yang bernama Hawa kedepan mata si adam. Tidak ada kata bahwa Adam harus menikahi atau mengawini Hawa, tetapi di Alkitab jelas tertulis, Tuhan hanya membawa atau memamerkan Hawa kepada Adam.
Kejadian 2 : 23 “Lalu berkatalah manusia itu : inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku." Maksudnya adalah, pada saat Adam pertama kali melihat Hawa, Adamlah yang menentukan pasangannya sendiri. Adamlah yang tertarik pertama kali. Karena melihat Hawa yang begitu menarik perhatian, maka Adam langsung berseru “Inilah dia”
Begitu pula dengan hidup ini. kita dapat memilih pasangan kita sesuka hati kita. Tetapi tetap harus dalam jalur Tuhan. Dan pada saat kita sudah menentukan siapa pasangan kita, maka kita harus bertanggung jawab atas pilihan kita sendiri, beserta dengan akibat-akibatnya. Sebagai anak Tuhan, sudah sepantasnya kita mencari anak Tuhan. Dan ingatlah kita bukan mencari kecocokan, tetapi mencari partner hidup atau pasangan hidup.
Salam Revival!!! Tuhan Yesus memberkati
Belajar dari Habakuk
"Ya Tuhan, kalau dia memang jodohku, dekatkanlah ... Tapi kalau bukan jodohku, jodohkanlah ... Jika dia tidak berjodoh denganku, maka jadikanlah kami jodoh ... Kalau dia bukan jodohku, jangan sampai dia dapet jodoh yang lain, selain aku ...Kalau dia tidak bisa dijodohkan denganku, jangan sampai dia dapet jodoh yang lain, biarkan dia tidak berjodoh sama seperti diriku ... Dan saat dia telah tidak memiliki jodoh, jodohkanlah kami kembali ...Kalau dia jodoh orang lain, putuskanlah! Jodohkanlah denganku ... Jika dia tetap menjadi jodoh orang lain, biar orang itu ketemu jodoh yang lain dan kemudian jodohkan kembali dia denganku ... Aamin."
“Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar, aku berseru kepadaMU: ‘Penindasan!’ tetapi tidak Kautolong? Mengapa Engkau ...” (Habakuk 1:2-3)
Pada fase ini seseorang sedemikian terobsesi dengan dirinya, bukan kepada Tuhan. Yang penting adalah bagaimana Tuhan bisa memuaskan diri, bukannya diri memuliakan Tuhan. Dan karena begitu sibuknya berdoa sampai-sampai tidak punya waktu untuk mendengar jawaban doa.
“Aku mau berdiri di tempat pengintaianku dan berdiri tegak di menara, aku mau meninjau dan menantikan apa yang akan difirmankanNya kepadaku, dan apa yang akan dijawabNya atas pengaduanku.” (Habakuk 2:1)
Menanti jawaban Tuhan lebih baik dari pada bertindak tergesa-gesa. Tuhan tidak pernah terlalu cepat dan terlambat. Percayalah kepadaNya!
“Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan... namun aku bersorak-sorak di dalam Tuhan, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku. ALLAH Tuhanku itu kekuatanku...” (Habakuk 3:17-19)
Doa kita pada fase ini akan dipenuhi dengan puji-pujian yang tulus (tidak bermulut manis yang manipulatif) dan penyerahan total kepada kehendak Allah (“Biarlah kehendak Tuhan yang jadi”).
“Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa. Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu” Yakobus 4:2b-3
MEMPERTAJAM KARAKTER
"Jika besi menjadi tumpul dan tidak diasah, maka orang harus memperbesar tenaga, tetapi yang terpenting untuk berhasil adalah hikmat." Pengkhotbah 10 :10
Kehidupan digambarkan seperti pisau. Pisau yang selalu digunakan jika tidak diasah lama-kelamaan menjadi tumpul. Sebagaimana pisau yang diasah agar tetap tajam, demikian halnya dengan hidup kita harus selalu diasah dengan FirmanNya agar senantiasa memiliki ketajaman. Kita sudah mempelajari mengasah kehidupan itu meliputi: mata, telinga, mulut, pikiran dan tangan. Bagian lain dari hidup kita yang perlu kita diasah/dipertajam adalah: ‘KARAKTER’
Ketajaman mata, telinga, mulut, pikiran dan tangan dapat membawa kita menuju puncak, tetapi KARAKTERLAH yang mempertahankannya.
Perhatikan apa yang terjadi di sekitar kita. Orang-orang yang memiliki kesempatan, kekayaan, pengetahuan, skill, talenta dan kecerdasan akan menanjak naik ke atas. Karier mereka maju, jabatan terus naik, usaha makin berkembang, tetapi hanya mereka yang memiliki karakterlah yang akan terus bertahan di atas puncak.
PROBLEM KARAKTER
Karakter adalah problem bangsa bahkan dunia. 70 tahun sudah bangsa kita merdeka, tetapi kita belum benar-benar merdeka. Penjajah memang sudah hengkang dari Indonesia, tetapi kita masih dijajah oleh kemiskinan, kesulitan ekonomi, keterbelakangan pendidikan, narkoba, dan berbagai masalah sosial antara lain: anak jalanan, jumlah pengangguran yang tinggi, kesenjangan ekonomi dan moralitas.
“7 Dosa Sosial” [disebut 7 dosa dunia] yang disampaikan oleh Mohandas Karamchand Gandhi, yaitu:
- Wealth without work : Kekayaan tanpa usaha
Bukankah ini yang sedang kita lihat di negeri ini? Orang ingin kaya tanpa kerja keras, akibatnya mereka korupsi atau menipu.
- Pleasure without conscience : Kesenangan tanpa nurani
Tidak sedikit manusia di akhir zaman hanya mengejar kesenangan daging dan mengabaikan hati nurani. Tidak lagi peduli benar atau salah yang penting happy.
- Knowledge without character : Pengetahuan tanpa karakter
Semakin banyak orang pintar seharusnya keadaan bangsa ini tambah baik, tambah sejahtera dan tambah maju. Tetapi apa faktanya setelah 70 tahun merdeka? Ini semuanya karena orang makin pintar tapi kehilangan karakter. Kepandaian tidak digunakan untuk menolong orang lain tetapi untuk mencari kesenangan pribadi.
- Commerce without morality : Bisnis tanpa moralitas
Orang bekerja/berdagang tanpa disertai moralitas. Lihat saja dari berita di tv. Pedagang tidak segan-segan memberikan zat kimia berbahaya dalam makanan demi meraup keuntungan yang besar. Makanan-makanan yang sudah kadaluwarsa, tidak layak konsumsi tetap dijual demi rupiah.
- Science without humanity : Sains/Ilmu tanpa nilai kemanusiaan
Ilmu pengetahuan yang seharusnya menambah manusia makin mulia, justru ilmu pengetahuan menghancurkan dan membunuh manusia.
- Religion without sacrifice : Agama tanpa pengorbanan
Tuhan Yesus berkata: barang siapa mengikut Aku ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya tetapi orang banyak orang kristen menghindari salib dan penderitaan.
- Politics without principles : Politik tanpa prinsip.
Inilah tontanan yang kita saksikan saat ini. Para tokoh dan pelaku politik tidak lagi memiliki prinsip. Tidak mempedulikan benar atau salah, semuanya dilakukan demi keuntungan pribadi dan kelompoknya.
HILANGNYA KARAKTER ALLAH
Dosa membuat manusia kehilangan Karakter Allah. Sejak manusia jatuh dalam dosa kecenderungan hatinya melakukan kejahatan.
"Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata." Kejadian 6:5
Mengapa Karakter Perlu Dipertajam?
1. KARAKTER lebih berharga dari kekayaan
"Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas." Amsal 22:1
Uang, harta, kekayaan yang kita miliki bisa habis atau hilang, bahkan diri kita pun akan meninggal, namun nama kita akan selalu dikenang. Oleh sebab itu, jaga nama kita dengan karakter yang baik sehingga kelak ketika kita telah tiada kita meninggalkan kenangan yang baik.
Zakheus menyadari akan hal ini, bahwa nama baik lebih berharga dari pada kekayaan, karena itu sejak berjumpa dengan Yesus, ia mengalami perubahan hidup sehingga memperbaiki reputasinya dengan mengembalikan empat kali lipat kepada orang-orang yang dulunya ia peras untuk membayar pajak (Lukas 19:8).
2. Pohon dikenal melalui buahnya
"Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka." Matius 7:20
Akarnya ke dalam, buahnya keluar. Kita dikenal dari apa yang kita lakukan. Jati diri Anda adalah KARAKTER Anda. Orang baik berkarakter baik karena melakukan hal-hal yang baik. Sementara mereka yang berkarakter jahat melakukan hal-hal jahat.
3. Karakter kita menentukan masa depan kita.
"Perhatikanlah orang yang tulus dan lihatlah kepada orang yang jujur, sebab pada orang yang suka damai akan ada masa depan; tetapi pendurhaka-pendurhaka akan dibinasakan bersama-sama, dan masa depan orang-orang fasik akan dilenyapkan." Mazmur 37:37 & 38
Masa depan adalah milik orang yang berkarakter baik. Barangkali kita tidak terlalu pintar, tidak memiliki keahlian yang memadai, minim dengan skill, tidak punya hubungan yang luas, tetapi jika karakter kita baik, kita memiliki harapan akan masa depan. Saat ini orang cari pegawai tidak mengutamakan yang pintar atau yang berpengalaman tetapi yang berkarakter baik, jujur, tekun dan setia. Oleh karena itu mari kita gapai masa depan dengan karakter yang baik.
Esau kehilangan hak sulungnya karena karakternya buruk. Sebagai anak sulung, ia memiliki hak untuk menerima warisan anak sulung, namun karena karakternya buruk ia kehilangan semuanya itu.
"Janganlah ada yang menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan." Ibrani 12:16
4. KEBENARAN itu dilakukan bukan diajarkan.
"Sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu." Yohanes 13:15
Kebenaran tidak bisa dipindahkan dengan ajaran, kebenaran/karakter dipindahkan melalui keteladanan yang dipertontonkan. Itulah yang dilakukan Tuhan Yesus kepada murid-muridNya, Ia mengajar bukan hanya dengan kata-kata tetapi dengan contoh kehidupan yang nyata.
5. Tuhan memanggil kita untuk menjadi SERUPA dengan YESUS
"Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara." Roma 8:29
Tujuan Tuhan Yesus menebus kita bukan hanya untuk menyelamatkan kita, tetapi untuk menjadikan kita serupa dengan gambarNya. Kekristenan bukan sekedar agama atau ritual ibadah, kekristenan adalah jalan menuju keserupaan dengan Kristus.
6. Tuhan Lebih Menghargai SIKAP dari pada PRESTASI
"Tetapi jawab Samuel: “Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan." 1Samuel 15:22
Ini bukan berarti persembahan, pelayanan, doa dan pujian yang kita persembahkan kepada Tuhan tidak penting, bukan! Semuanya itu penting bagi Tuhan tetapi yang utama harus disertai dengan sikap yang benar. Mengapa Tuhan menolak doa, persembahan dan puasa yang dilakukan orang Farisi dan ahli-ahli Taurat? Karena mereka tidak memiliki sikap hati yang benar kepada Tuhan. Sikap kita adalah karakter kita.
CARA MEMPERTAJAM KARAKTER
A. Belajar kepada KRISTUS
"Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan." Matius 11:29
Jika kita berkhotbah, kita hanya mentrasfer pengetahuan dan pewahyuan Firman Allah kepada jemaat. Demikian juga saat kita mendoakan orang, kita tidak memindahkan karakter kita tetapi kuasa Allah. Karakater hanya bisa ditransfer melalui dua cara yaitu hubungan dan keteladanan. Jadi kalau kita ingin menjadi serupa Kristus. Maka kita harus memiliki hubungan intim dengan Dia dan meneladani perbuatanNya. Ini semua dapat terjadi jika kita belajar pada Kristus.
B. Selaraskan antara pikiran, perkataan dan tindakan
"Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apsaa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat." Mat 5:37
Karakter adalah keselarasan antara pikiran, perkataan dan perbuatan. Setiap kali kita belajar menyelaraskan tiga hal tersebut kita sedang membangun karakter hidup kita. Contoh: Yefta (Hakim-hakim 11) Yefta menepati nazarnya untuk mengorbankan anak perempuannya karena menyongsongnya saat ia pulang perang.
C. Fokus pada PROSES bukan hasil akhir
"Ia telah memperkenalkan jalan-jalan-Nya kepada Musa, perbuatan-perbuatan-kepada orang Israel." Mazmur 103:7
Karakter tidak dibangun dalam waktu semalam dengan cara instant. Karakter dibangun dari hari ke hari. Minggu ke Minggu, bulan ke bulan bahkan bertahun-tahun dengan tempaan kesukaran dan penderitaan. Untuk itu bersiaplah, untuk menjalani proses Allah bukan hasil yang cepat dan mudah.
D. Kelilingi diri Anda dengan orang yang berkarakter baik
"Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik." 1Kor. 15:33
Lingkungan akan membentuk karakter kita. Untuk menghasilkan karakter yang baik, kita harus dikelilingi dengan orang-orang yang berkarakter baik pula.
Salam Revival!!! Tuhan Yesus memberkati
Sabtu, 05 Maret 2016
ayooo..... Beritakan Injil!!!
Liat lagi satu-satu nama-nama temen kamu yang tersimpan disitu. Berapa banyak dari mereka yang belum pernah mendengar tentang kebenaran Yesus Kristus?
“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." Matius 5:16
Ini yang banyak jadi ‘stress’ buat orang Kristen. Ada yang bilang kalo kita harus memenangkan jiwa. Ternyata, Tuhan nggak pernah kok bilang secara langsung kalo kita harus memenangkan jiwa! Tuhan hanya menyuruh kita buat bersaksi! Beda lho antara bersaksi dengan memenangkan jiwa!
“Lalu Ia berkata kepada mereka: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” Markus 16:15
“Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.” 1 Yohanes 3:16
“Sebab kasih Kristus yang menguasai kami..” 2 Korintus 5:14
“…karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.” Filipi 2:13
Bersaksi adalah respon murid-murid Yesus (termasuk kita juga) terhadap perintah Yesus sebelum Dia naik ke surga. Yang kita kenal dengan nama Amanat Agung.
“Aku berhutang baik kepada orang Yunani, maupun kepada orang bukan Yunani, baik kepada orang terpelajar, maupun kepada orang tidak terpelajar. Itulah sebabnya aku ingin untuk memberitakan Injil kepada kamu juga yang diam di Roma.” Roma 1:14
“Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya." Matius 24:14
